gadsdenriverfest.com -Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menilai penerapan PP Tunas sebagai langkah strategis. Kebijakan ini bertujuan melindungi anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Vera menjelaskan, anak berada pada fase penting perkembangan otak, emosi, dan kontrol diri. Kondisi tersebut membuat mereka rentan terhadap pengaruh lingkungan digital. Ia menekankan pentingnya pembatasan akses agar proses tumbuh kembang berjalan optimal.
“Aturan ini relevan dengan kondisi saat ini. Anak membutuhkan perlindungan agar berkembang sesuai tahap usianya,” ujar Vera di Jakarta. Ia menambahkan, kebijakan ini bukan sekadar larangan penggunaan media sosial.
Menurutnya, PP Tunas memberi ruang bagi anak untuk belajar dan berinteraksi secara sehat. Anak perlu pengalaman langsung dengan keluarga dan teman sebaya. Interaksi tersebut berperan besar dalam pembentukan karakter dan kemampuan sosial.
Paparan media sosial sejak dini dapat memicu berbagai dampak negatif. Vera menyebut gangguan regulasi emosi sebagai salah satu risiko utama. Selain itu, penggunaan berlebih dapat memengaruhi pembentukan identitas diri anak.
Baca juga:“iQOO Z11 Meluncur dengan Baterai Besar dan Layar 165Hz”
Soroti Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Anak
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menyoroti dampak serius media sosial pada anak. Ia menilai penggunaan tanpa pengawasan dapat mengganggu kesehatan mental dan perkembangan sosial.
Vera menjelaskan, anak rentan mengalami kecemasan akibat paparan media digital. Perbandingan sosial di platform online sering memicu rasa tidak percaya diri. Anak juga cenderung mengalami overthinking terhadap citra diri mereka.
Selain itu, risiko ketergantungan digital semakin meningkat pada usia muda. Anak dapat mengalami perubahan suasana hati yang lebih sering. Kondisi ini turut menurunkan kemampuan fokus dan konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari.
“Berkurangnya kemampuan komunikasi langsung sering terjadi karena anak tidak terbiasa membaca isyarat nonverbal,” ujar Vera. Ia menilai interaksi tatap muka tetap penting untuk membangun empati dan keterampilan sosial.
Dampak lain terlihat pada kemampuan anak memahami ekspresi dan emosi orang lain. Anak yang terlalu sering berinteraksi secara digital cenderung kesulitan membaca situasi sosial. Hal ini dapat memengaruhi hubungan mereka di lingkungan nyata.
Vera menegaskan, dampak media sosial tidak hanya ditentukan durasi penggunaan. Kualitas konten menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan orang tua. Konten negatif atau tidak sesuai usia dapat memperbesar risiko gangguan psikologis.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan aktif dari orang tua. Anak membutuhkan arahan untuk memahami penggunaan teknologi secara sehat. Edukasi digital menjadi langkah penting dalam mencegah dampak jangka panjang.
Rekomendasikan Batas Waktu Layar Anak Sesuai Usia
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menekankan pentingnya pengaturan waktu layar anak. Ia menyebut batasan ini krusial untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di era digital.
Vera menjelaskan, anak usia 0–2 tahun sebaiknya tidak terpapar layar. Pengecualian hanya berlaku untuk panggilan video dengan keluarga. Pada usia 2–5 tahun, penggunaan gawai dibatasi maksimal satu jam per hari dengan pendampingan.
Untuk anak usia 6–12 tahun, durasi ideal berkisar satu hingga dua jam per hari. Waktu tersebut tidak termasuk kebutuhan belajar sekolah. Sementara itu, remaja usia 13–16 tahun dapat lebih fleksibel, tetapi tetap perlu pengawasan ketat.
Ia menegaskan, penggunaan berlebihan dapat mengganggu waktu tidur dan aktivitas utama anak. Dampak lain meliputi penurunan konsentrasi dan berkurangnya interaksi sosial langsung. Karena itu, orang tua perlu memastikan keseimbangan aktivitas digital dan non-digital.
“Pembatasan akses media sosial bukan soal membatasi kebebasan anak, tetapi melindungi tumbuh kembangnya,” ujar Vera. Ia menambahkan, pendekatan ini membantu anak berkembang sehat secara fisik, mental, dan sosial.
Selain durasi, kualitas konten juga menjadi faktor penting. Anak perlu mengakses konten yang sesuai usia dan edukatif. Pendampingan orang tua saat anak menggunakan gawai sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan negatif.
Baca juga:“GoPay Hadirkan Fitur Transportasi untuk Pembelian Tiket Arus Balik”




Leave a Reply