gadsdenriverfest.com -Meta mengakuisisi startup AI asal China, Manus, dengan nilai kesepakatan lebih dari USD 2 miliar atau sekitar Rp 33,3 triliun. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Langkah ini menunjukkan ambisi Meta untuk tidak tertinggal dalam perlombaan pengembangan AI generative dan agen cerdas yang semakin kompetitif secara global.
Mengutip Zdnet, Sabtu (3/1/2026), akuisisi Manus diharapkan membantu Meta menghadirkan sistem AI lebih praktis dan bermanfaat bagi jutaan pengguna aktif platformnya.
Dengan akuisisi ini, Meta berpotensi memperkecil kesenjangan teknologi dengan laboratorium AI terkemuka dunia, termasuk OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind.
Meskipun memiliki modal besar dan sumber daya komputasi kuat, Meta selama ini dinilai kurang agresif dalam menghadirkan AI yang benar-benar menyentuh kebutuhan pengguna.
Akuisisi Manus menjadi strategi penting untuk mempercepat pengembangan AI fungsional. Meta menargetkan teknologi yang relevan, praktis, dan berdampak nyata pada pengalaman konsumen.
Langkah ini menegaskan fokus Meta pada inovasi AI sebagai bagian dari ekspansi globalnya. Perusahaan berharap teknologi baru ini dapat memperkuat posisi di pasar AI generative.
Baca juga:“iPhone 11 Pro hingga MacBook Air Intel Masuk Daftar Produk Vintage Apple
Akuisisi Manus Dorong Meta Kembangkan Agen AI di Instagram, WhatsApp, dan Facebook
Meta resmi mengakuisisi startup AI Manus untuk memperkuat strategi pengembangan agen AI di seluruh platformnya, termasuk Instagram, Facebook, Messenger, dan WhatsApp.
Langkah ini memungkinkan Meta menghadirkan asisten digital yang lebih cerdas dan fungsional, memperluas kemampuan interaksi pengguna di ekosistem aplikasi perusahaan.
Meski diakuisisi, Manus tetap akan beroperasi secara mandiri dan menjual layanan AI-nya secara terpisah. Pernyataan ini diumumkan secara resmi pada Senin lalu.
Skema mandiri ini berpotensi menghadirkan aliran pendapatan tambahan bagi Meta dari basis pengguna Manus yang terus bertumbuh.
Dana akuisisi akan mendukung ambisi jangka panjang Meta di bidang AI, termasuk pengembangan sistem AI tingkat lanjut yang disebut “superintelligence.”
Pengamat menilai strategi ini mencerminkan kombinasi pendekatan agresif dan konservatif: integrasi teknologi tanpa kehilangan otonomi startup.
Dengan agen AI yang terhubung lintas platform, Meta berupaya meningkatkan pengalaman digital pengguna dan memperkuat posisi di pasar AI global.
Meta Alihkan Fokus dari Metaverse ke AI Generatif untuk Efisiensi Bisnis
Meta, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook, resmi mengubah arah strategi bisnisnya sejak 2021. Pergeseran ini awalnya menekankan pengembangan metaverse sebagai masa depan interaksi sosial digital.
Perusahaan percaya dunia virtual akan menjadi platform utama untuk aktivitas ekonomi dan interaksi pengguna. Namun, realisasi strategi ini belum sesuai harapan.
Penjualan perangkat realitas virtual melambat, dan platform metaverse Horizon Worlds tercatat minim aktivitas pengguna, menandakan adopsi rendah.
Seiring melonjaknya popularitas AI generatif setelah peluncuran ChatGPT, Meta kembali menyesuaikan fokus bisnisnya ke riset dan pengembangan kecerdasan buatan.
Pada 2023, Meta menandai periode ini sebagai “Tahun Efisiensi,” menetapkan AI sebagai prioritas utama perusahaan di seluruh lini produk.
Meta meningkatkan investasi pada model bahasa besar sumber terbuka, LLaMA, sekaligus memperluas integrasi asisten AI ke platformnya seperti Instagram, WhatsApp, dan Messenger.
Langkah ini menunjukkan adaptasi perusahaan terhadap tren teknologi global, sekaligus menekankan AI sebagai inti inovasi masa depan, bukan sekadar fitur tambahan.
Baca juga:“Samsung Siapkan Fitur Brain Health, Diklaim Bisa Deteksi Dini Demensia”




Leave a Reply