gadsdenriverfest -Indonesia Crypto Exchange (ICEx) resmi beroperasi sebagai Self-Regulatory Organization (SRO) sejak 5 Januari 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan lisensi resmi untuk mendukung pengawasan industri kripto. Kehadiran ICEx menandai langkah penting dalam penguatan ekosistem aset digital nasional.
ICEx mengintegrasikan fungsi bursa, kliring, dan kustodian dalam satu sistem. Model ini meningkatkan efisiensi transaksi dan memperkuat keamanan aset pengguna. Integrasi tersebut juga memudahkan pengawasan regulator dalam satu kerangka terpadu.
Sebelumnya, fungsi-fungsi tersebut berjalan secara terpisah di berbagai lembaga. Dengan sistem baru, proses perdagangan kripto menjadi lebih transparan dan terstandarisasi. Hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan investor domestik dan global.
CEO ICEx Group, Kai Pang, menegaskan bahwa kehadiran ICEx bukan hanya pencapaian lokal. Ia menyebut Indonesia sedang membangun infrastruktur kripto dengan standar global. Menurutnya, pendekatan ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam bersaing di pasar digital internasional.
“Ini bukan sekadar pencapaian domestik. Indonesia sedang membangun infrastruktur kripto berkelas dunia,” ujar Kai Pang. Ia menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers Grand Launching ICEx.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global dalam penguatan regulasi kripto. Banyak negara mulai membangun sistem terintegrasi untuk melindungi investor. Indonesia mengambil posisi strategis dengan mengedepankan regulasi dan inovasi sekaligus.
Dengan sistem terintegrasi, ICEx diharapkan dapat mengurangi risiko operasional dan meningkatkan perlindungan konsumen. Selain itu, kehadirannya dapat mendorong pertumbuhan industri kripto yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca juga:“Oppo Siapkan Peluncuran Global Find X9 Ultra pada 21 April 2026”
Integrasikan Bursa, Kliring, dan Kustodian dalam Ekosistem Kripto Nasional
ICEx Group mengoperasikan tiga entitas utama dalam satu ekosistem kripto terintegrasi di Indonesia. Struktur ini mencakup fungsi bursa, kliring, dan kustodian dalam satu pengawasan terpadu. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan keamanan transaksi aset digital.
ICEx berperan sebagai bursa yang memfasilitasi perdagangan aset kripto. Crypto Asset Clearing International (CACI) menangani proses kliring untuk memastikan penyelesaian transaksi berjalan lancar. International Crypto Custodian (ICC) bertugas menyimpan aset digital secara aman.
Ketiga entitas tersebut telah memperoleh izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dukungan regulasi ini memperkuat kredibilitas dan kepercayaan terhadap ekosistem ICEx. Selain itu, struktur terintegrasi memudahkan pengawasan dan pengendalian risiko operasional.
ICEx Group juga didukung modal dasar sebesar Rp1 triliun. Modal ini berasal dari 11 Pedagang Aset Kripto Digital (PAKD). Para pelaku industri tersebut bertindak sebagai pemegang saham sekaligus anggota bursa.
Model kolaboratif ini mencerminkan sinergi antara pelaku industri dan regulator. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan pasar kripto domestik. Selain itu, integrasi sistem memungkinkan proses transaksi yang lebih transparan dan efisien.
CTO ICEx Group, Andrew Marchen, mengungkapkan tantangan besar dalam pasar kripto nasional. Berdasarkan data Asosiasi FinTech Indonesia (Aftech), sekitar 70 persen transaksi aset digital masih terjadi di bursa luar negeri. Kondisi ini menunjukkan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan di dalam negeri.
Ekosistem Kripto Terintegrasi dan Dorong Inovasi Produk Digital
ICEx Group menegaskan integrasi tiga fungsi utama tidak menambah kompleksitas sistem. Sebaliknya, pendekatan ini mengurangi fragmentasi yang selama ini menghambat industri kripto nasional. Integrasi tersebut menjadi fondasi untuk membangun ekosistem yang lebih efisien dan terstruktur.
Chief Technology Officer ICEx Group, Andrew Marchen, menjelaskan manfaat utama sistem terintegrasi tersebut. Ia menyebut sistem ini dirancang untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan publik. Selain itu, regulator juga dapat melakukan pengawasan secara lebih efektif.
Menurut Andrew, ekosistem terintegrasi akan mempercepat pertumbuhan industri kripto domestik. Sistem ini juga membantu menciptakan standar operasional yang lebih konsisten. Dengan begitu, pelaku pasar dapat bertransaksi dengan rasa aman dan kepastian hukum.
Chief Financial Officer ICEx Group, Rizky Indraprasto, menegaskan komitmen perusahaan terhadap tata kelola. Ia menyatakan ICEx tidak akan mengorbankan integritas demi mengejar pangsa pasar. Perusahaan tetap menempatkan kepatuhan dan transparansi sebagai prioritas utama.
Rizky menjelaskan strategi bisnis ICEx ke depan akan berfokus pada inovasi produk. Salah satu fokus utama adalah pengembangan produk derivatif kripto. Produk ini diharapkan meningkatkan likuiditas melalui order book yang lebih dalam.
Selain itu, ICEx juga mendorong tokenisasi aset dunia nyata atau real world asset (RWA). Inisiatif ini memungkinkan aset fisik dikonversi menjadi token digital. Langkah tersebut berpotensi memperluas akses investasi bagi masyarakat.
“Fokus kami pada produk derivatif dan percepatan tokenisasi RWA di Indonesia,” ujar Rizky. Ia menilai inovasi ini dapat meningkatkan daya tarik pasar kripto domestik. Dengan variasi produk yang lebih luas, investor memiliki lebih banyak pilihan.
ICEx beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini memberikan kepastian regulasi bagi pelaku industri dan investor. Pengawasan tersebut juga memperkuat perlindungan konsumen dalam ekosistem kripto.
Baca juga:“Galaxy Buds 4 Pro Tawarkan Cara Baru Redakan Mabuk Perjalanan Lewat Audio Khusus”




Leave a Reply