gadsdenriverfest – Sejumlah pemasok bahan baterai lithium China kembali menyesuaikan harga produk. Mereka seiring meningkatnya biaya bahan baku dan melonjaknya permintaan global yang dipengaruhi transisi energi berkelanjutan. Langkah ini menegaskan tekanan industri baterai terhadap dinamika pasar hulu yang semakin kompleks.
Menurut laporan CarNewsChina pada Sabtu (14/12), Hunan Yuneng New Energy. Pemasok utama bahan katoda baterai lithium-ion dengan pelanggan besar seperti CATL dan BYD—mengumumkan kenaikan biaya. Pemrosesan seluruh rangkaian produk lithium besi fosfat mulai 1 Januari 2026. Perusahaan menetapkan penyesuaian sebesar 3.000 yuan per ton, belum termasuk pajak. Kebijakan ini dapat kembali ditinjau apabila pasar menunjukkan fluktuasi signifikan atau terjadi perubahan drastis pada harga bahan baku.
Selain itu, produsen baterai Dejia Energy juga mengumumkan penyesuaian harga. Efektif pada 16 Desember 2025, harga jual produk baterai mereka akan naik 15 persen dari harga katalog sebelumnya. Kenaikan ini dipicu lonjakan biaya bahan baku hulu yang berdampak langsung pada struktur biaya produksi perusahaan.
Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana permintaan global terhadap baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (ESS) terus mendorong tekanan pada rantai pasok. Peningkatan kebutuhan bahan baku kritis seperti lithium, nikel, dan fosfat menjadi faktor pendorong kenaikan biaya yang sulit dihindari produsen.
Ke depan, pelaku industri diperkirakan akan melakukan penyesuaian strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengelola harga jual agar tetap kompetitif. Di tengah percepatan adopsi energi terbarukan di seluruh dunia, fluktuasi harga bahan baku baterai kemungkinan tetap menjadi tantangan utama bagi produsen maupun konsumen industri.
Kenaikan harga yang diumumkan pemasok besar ini menandakan perlunya antisipasi lebih lanjut dari pabrikan kendaraan listrik dan ekosistem energi bersih global terhadap potensi peningkatan biaya produksi pada tahun-tahun mendatang.
“Baca juga : Peneliti Harvard Ungkap Waktu Terbaik Minum Kopi untuk Wanita”
HARGA BAHAN BAKU BATERAI LITHIUM MELONJAK TAJAM DI PASAR CHINA AKIBAT TEKANAN PERMINTAAN DAN PASOKAN
Harga sejumlah bahan baku utama baterai lithium di China dilaporkan mengalami lonjakan ekstrem dalam beberapa bulan terakhir. Tren kenaikan ini mencerminkan tingginya tekanan permintaan global terhadap industri baterai seiring percepatan adopsi kendaraan listrik dan teknologi penyimpanan energi.
Laporan OFweek menyebutkan bahwa harga lithium heksafluorofosfat. Garam penghantar penting dalam elektrolit cair baterai lithium-ion, melonjak hingga 118 persen hanya dalam dua bulan. Harga bahan tersebut naik dari 55.000 yuan per ton menjadi 120.000 yuan per ton. Peningkatan signifikan yang menunjukkan ketatnya ketersediaan bahan baku di pasar hulu.
Kenaikan tak kalah drastis terjadi pada lithium cobalt oxide, material yang digunakan sebagai katoda baterai lithium-ion. Harga komoditas ini meroket dari 140.000 yuan per ton pada awal 2025 menjadi 350.000 yuan per ton pada November 2025. Dengan lonjakan lebih dari 150 persen, material ini menjadi salah satu penyumbang utama peningkatan biaya produksi baterai.
Para analis menilai tren kenaikan ini dipicu kombinasi faktor, mulai dari meningkatnya permintaan industri kendaraan listrik, terbatasnya suplai bahan baku, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi rantai pasok global. Harga yang terus menanjak dikhawatirkan turut berdampak pada biaya manufaktur baterai dan harga akhir kendaraan listrik di pasar internasional.
Ke depan, pelaku industri diprediksi akan semakin bergantung pada inovasi teknologi, diversifikasi rantai pasok. Serta kebijakan strategis pemerintah untuk menekan volatilitas harga bahan baku kritis. Peningkatan kapasitas produksi hulu, eksplorasi sumber baru, dan percepatan daur ulang baterai juga dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas industri energi bersih global.
Kenaikan Harga Litium Karbonat Tekan Industri China dan Pacu Produsen Mobil Amankan Pasokan
Harga litium karbonat kelas baterai di China terus menunjukkan tren kenaikan tajam sepanjang akhir tahun 2025. Komoditas penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik ini kini telah melampaui 94.000 yuan per ton, dengan kenaikan bulanan di November tercatat lebih dari 16 persen. Lonjakan tersebut menambah tekanan pada biaya produksi baterai yang sejak beberapa bulan terakhir sudah terdampak naiknya harga bahan baku lainnya.
Kenaikan harga juga memengaruhi material katoda lithium besi fosfat. Yang kini diproyeksikan meningkat antara 2.300 hingga 2.500 yuan untuk setiap kenaikan 10.000 yuan pada harga bahan baku. Perubahan harga ini secara langsung berdampak pada biaya produksi, mengingat baterai lithium besi fosfat saat ini mendominasi 81,5 persen kapasitas terpasang pasar baterai daya di China. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa sensitifnya industri baterai terhadap perubahan harga litium di pasar hulu.
Di tengah ketatnya pasokan dan meningkatnya permintaan baterai, para produsen mobil dikabarkan mulai bergerak cepat mengamankan pasokan dari produsen baterai terbesar. Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan risiko hambatan distribusi yang dapat mengganggu jadwal produksi kendaraan listrik mereka. Sumber industri menyebutkan bahwa pabrik otomotif besar memilih menjalin kontrak jangka panjang guna memastikan stabilitas pasokan, meskipun harga bahan baku terus berfluktuasi.
Situasi ini mempertegas pentingnya diversifikasi rantai pasok dan inovasi teknologi sebagai langkah mitigasi jangka panjang. Pemerintah dan pelaku industri diprediksi akan meningkatkan investasi pada eksplorasi sumber litium baru, optimalisasi teknologi daur ulang baterai, serta pengembangan material pengganti yang lebih stabil secara harga. Dengan permintaan kendaraan listrik global yang terus naik, stabilitas pasokan dan biaya baterai menjadi faktor kunci yang menentukan daya saing sektor otomotif di masa depan.
“Baca juga : Menko Airlangga Bahas Kemitraan Ekonomi dengan Chili di Paris”




Leave a Reply