- gadsdenriverfest – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengungkap dampak situasi global pada ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia .
“Yang berhubungan dengan stok obat dan vaksin, ya kita harus ketahui bahwa mayoritas produk-produk kita, 70-90 persen itu raw material-nya impor. Itu berpengaruh, termasuk berpengaruh terhadap harga,” kata Taruna saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026) .
Guna membahas permasalahan ini, pihaknya akan mengumpulkan berbagai industri farmasi dalam waktu dekat guna mencari solusi bersama .
“Nah dalam konteks itu saya kira kami akan kumpulkan gabungan industri farmasi dalam waktu dekat untuk bagaimana mencari solusinya, intinya seperti itu,” ujar Taruna .
Dia berharap, situasi geopolitik dan perang bisa segera berakhir agar ketersediaan obat dan energi tetap terjaga .
Jaminan Ketersediaan Stok
“Tapi yang paling penting, kami ingin memastikan ketersediaan khususnya obat-obat esensial itu aman bagi rakyat kita. Untuk selama ini yang kita sudah dapat jumlahnya, ketersediaannya masih 6 bulan ke depan masih aman. Tapi kan kita ingin kalau bisa lebih dari itu,” ujarnya .
Taruna menekankan pentingnya tindakan antisipatif meskipun stok saat ini terjamin .
“Makanya dalam waktu dekat, kita akan kumpulkan industri farmasi dan gabungan perusahaan besar farmasi untuk berkumpul secepatnya untuk kita cari solusi bersama-sama. Itu sih intinya. Karena sekali lagi ketersediaan obat dan vaksin itu adalah hal yang sangat penting,” ujarnya .
Kerentanan Rantai Pasok Obat Nasional
Kerentanan ini bukan isu baru. Data dari DPR dan asosiasi industri menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen bahan baku obat (BBO) yang digunakan oleh industri farmasi Indonesia masih diimpor dari luar negeri .
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti bahwa ketergantungan yang sangat tinggi ini menjadi tantangan serius bagi kemandirian dan ketahanan sektor kesehatan nasional .
Contoh paling konkret dari ketergantungan ini adalah kapsul obat yang masih 100 persen diimpor . Selain itu, konflik di Timur Tengah yang memanas sejak Maret 2026 telah menyebabkan gangguan pada jalur distribusi global .
Biaya pengiriman udara untuk produk farmasi dilaporkan melonjak 20-30 persen, sementara jalur laut dialihkan memutar ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), menambah waktu tempuh sekitar 10-14 hari .
Situasi ini berpotensi menyebabkan keterlambatan pasokan dan kenaikan biaya logistik yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga obat di masyarakat .
Dorongan Kemandirian dan Solusi
Sebagai langkah strategis jangka panjang, pemerintah terus didorong untuk membangun industri bahan baku obat di dalam negeri .
Investasi dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) diharapkan dapat diarahkan untuk membangun sektor hulu industri farmasi, bukan hanya industri hilir, guna memutus rantai ketergantungan impor .
Salah satu inisiatif yang muncul adalah rencana keterlibatan TNI dalam produksi dan distribusi obat, yang dinilai BPOM dapat memperkuat kemandirian dan ketahanan obat nasional .
Kerja sama antara Kementerian Pertahanan dan BPOM tengah dijajaki untuk memanfaatkan kapasitas rumah sakit TNI/Polri serta lembaga farmasi di bawah naungan TNI .
Dengan kombinasi jaminan stok jangka pendek dan upaya kemandirian jangka panjang, pemerintah berupaya memastikan akses masyarakat terhadap obat tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Taruna Ikrar: Stok Obat Esensial Aman 6 Bulan, Industri Farmasi Akan Dikumpulkan Pekan Depan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan bahwa ketersediaan obat menjadi hal yang sangat krusial. Ketiadaannya akan berbahaya bagi masyarakat, tidak seperti makanan yang masih bisa diganti dengan jenis sumber pangan atau produk lainnya.
“Kalau makanan masih bisa ada konversi ke produk lain. Tapi kalau vaksin dan obat, apalagi yang esensial, itu sangat berbahaya. Jadi kita akan kumpulkan industri farmasi secepat mungkin, minggu depan, ya secepatnya,” pungkasnya.
Mengapa Obat Lebih Kritis daripada Makanan?
Pernyataan Taruna menyoroti perbedaan mendasar antara ketahanan pangan dan ketahanan obat. Dalam situasi darurat:
- Makanan masih dapat dikonversi: jika nasi tidak tersedia, orang bisa makan jagung, singkong, atau sagu.
- Obat esensial (seperti antibiotik, insulin, obat hipertensi, atau vaksin) tidak memiliki substitusi yang setara. Satu jenis obat tidak bisa begitu saja digantikan oleh obat lain tanpa risiko efek samping atau penurunan efektivitas.
Ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor (70-90 persen) membuat sektor ini sangat rentan terhadap gejolak global, termasuk konflik geopolitik, pembatasan ekspor, dan lonjakan harga logistik.
Langkah Konkret: Kumpulkan Industri Farmasi Pekan Depan
Taruna memastikan bahwa pertemuan dengan gabungan industri farmasi akan digelar dalam waktu dekat, paling lambat pekan depan. Agenda pertemuan mencakup:
- Pemetaan stok bahan baku obat (BBO) yang dimiliki masing-masing industri
- Identifikasi obat-obat esensial dengan risiko ketersediaan tertinggi
- Alternatif jalur distribusi di tengah gangguan logistik global
- Kemungkinan produksi bersama atau alih teknologi untuk bahan baku tertentu
“Karena sekali lagi, ketersediaan obat dan vaksin itu adalah hal yang sangat penting,” tegas Taruna.
Jaminan Stok 6 Bulan ke Depan
Meski situasi global sedang tidak menentu akibat konflik di Timur Tengah dan ketegangan geopolitik lainnya, Taruna memberikan kabar yang sedikit melegakan: stok obat esensial nasional saat ini dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan 6 bulan ke depan.
Namun demikian, pemerintah tidak ingin berpuas diri. Target jangka pendek adalah memperpanjang masa aman menjadi lebih dari 6 bulan. Target jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku obat melalui pengembangan industri farmasi hulu di dalam negeri.
Imbauan untuk Masyarakat
BPOM mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau menimbun obat dalam jumlah berlebihan. Stok nasional masih aman, dan distribusi akan terus dipantau. Pembelian obat secara boros justru dapat menciptakan kelangkaan buatan yang merugikan banyak pihak.
Langkah bijak adalah membeli obat sesuai kebutuhan, memeriksa tanggal kedaluwarsa sebelum membeli, serta berkonsultasi dengan apoteker atau dokter sebelum mengganti merek obat yang biasa dikonsumsi.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, BPOM, dan industri farmasi, diharapkan rantai pasok obat nasional tetap terjaga meskipun dunia sedang dilanda badai ketidakpastian.




Leave a Reply