- gadsdenriverfest – Kepala NATO Mark Rutte mengatakan pada hari Kamis bahwa negara-negara anggota telah melakukan semua yang diminta Presiden AS Donald Trump untuk memperkuat aliansi militer. Pengakuan ini muncul di tengah evaluasi kinerja sekutu selama konflik dengan Iran.
Rutte mengakui bahwa beberapa negara awalnya “agak lambat” dalam memberikan dukungan kepada Amerika Serikat di tengah perangnya dengan Iran. Keterlambatan ini terjadi meskipun sekutu akhirnya memenuhi permintaan Washington.
“Ketika tiba saatnya untuk menyediakan dukungan logistik dan dukungan lainnya yang dibutuhkan Amerika Serikat di Iran, beberapa sekutu agak lambat, setidaknya demikian. Sejujurnya, mereka juga agak terkejut,” kata Rutte dalam pidatonya di Washington.
Trump Pilih Tidak Beri Tahu Sekutu Sebelumnya
Menurut Rutte, keterkejutan sekutu bukan tanpa alasan. Presiden Trump secara strategis memutuskan untuk tidak memberi tahu sekutu NATO sebelumnya.
“Untuk menjaga unsur kejutan dalam serangan awal, Presiden Trump memilih untuk tidak memberi tahu sekutu sebelumnya,” ungkap Rutte.
Keputusan ini menjelaskan mengapa beberapa negara Eropa lambat merespons. Mereka tidak memiliki persiapan awal karena tidak diberi informasi tentang operasi militer AS terhadap Iran.
Upaya Memperkuat Aliansi
Terlepas dari masalah koordinasi awal, Rutte menegaskan bahwa negara-negara anggota NATO pada akhirnya melakukan semua yang diminta Trump untuk memperkuat aliansi militer. Ini termasuk pemenuhan target pengeluaran pertahanan dan kontribusi logistik selama konflik.
Seperti diketahui, NATO didirikan pada 1949 dengan prinsip pertahanan kolektif di mana serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota . Prinsip ini tertuang dalam Pasal 5 Piagam Washington .
Namun, dalam konflik Iran kali ini, Trump memilih pendekatan berbeda dengan tidak mengaktifkan mekanika konsultasi penuh sebelum serangan. Langkah ini kontroversial tetapi dibenarkan dengan alasan operasional menjaga unsur kejutan militer.
Pernyataan Rutte ini menjadi pengakuan langka atas adanya ketidaksiapan sekutu sekaligus pembelaan atas keputusan presiden AS dalam menjalankan operasi militer.
“Baca Juga : Kemkomdigi Seleksi Frekuensi untuk Internet Pelosok“
Rutte: Setelah Awal yang Lambat, Sekutu NATO Akhirnya Beri Dukungan Sangat Besar ke AS
Kepala NATO Mark Rutte mengakui bahwa meskipun beberapa sekutu awalnya lambat merespons, situasi kini telah berubah secara signifikan. Dalam pidatonya di Washington, ia menyoroti peningkatan dukungan yang diberikan negara-negara anggota aliansi.
“Namun yang saya lihat, ketika saya melihat ke seluruh Eropa hari ini, adalah sekutu memberikan dukungan yang sangat besar,” tambahnya.
Rutte menegaskan bahwa hampir semua negara anggota NATO kini telah memenuhi harapan Washington. Mereka merespons permintaan yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Hampir tanpa kecuali, sekutu melakukan semua yang diminta Amerika Serikat. Mereka telah mendengar dan menanggapi permintaan Presiden Trump,” ujar Rutte.
Perubahan Sikap Sekutu Eropa
Pernyataan Rutte ini menunjukkan adanya perubahan sikap yang signifikan dari negara-negara Eropa. Awalnya, beberapa sekutu disebut “agak lambat” dan “terkejut” karena Trump tidak memberi tahu mereka sebelum serangan awal ke Iran.
Namun, setelah operasi berjalan dan kebutuhan logistik membesar, negara-negara Eropa bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Dukungan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari intelijen, izin terbang, hingga bantuan logistik dan medis.
Implikasi bagi Aliansi NATO ke Depan
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi NATO tentang keseimbangan antara menjaga unsur kejutan militer dan konsultasi sekutu. Ke depan, kemungkinan akan ada pembahasan tentang protokol komunikasi darurat untuk situasi serupa.
Meskipun demikian, Rutte menekankan bahwa respons akhir para sekutu membuktikan soliditas aliansi. “NATO tetap menjadi aliansi pertahanan kolektif yang paling kuat dan solid dalam sejarah,” tutupnya.
Pernyataan ini disampaikan di tengah berlanjutnya gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, serta proses negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan untuk mencapai perdamaian jangka panjang.
Komentar Rutte muncul setelah pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu. Dalam pertemuan yang digambarkan berlangsung “sangat terus terang dan terbuka” tersebut, Trump menyampaikan kekecewaannya secara langsung kepada Sekjen NATO .
Menurut para diplomat yang dikutip oleh Reuters, usai pertemuan itu Rutte menyampaikan kepada sejumlah ibu kota Eropa bahwa Trump menginginkan komitmen konkret dalam beberapa hari ke depan untuk membantu mengamankan Selat Hormuz. Trump menilai bahwa membuka jalur pelayaran vital tersebut bukan hanya tanggung jawab AS, tetapi juga negara-negara yang bergantung pada aliran minyak dari kawasan Teluk .
Permintaan dengan tenggat waktu yang singkat ini mencerminkan tekanan besar yang diberikan Trump kepada sekutu NATO, yang menurutnya gagal memberikan dukungan memadai selama operasi militer AS-Israel di Iran. Beberapa negara seperti Spanyol dan Prancis bahkan disebut melarang atau membatasi penggunaan wilayah udara dan fasilitas militer mereka untuk operasi AS .
Sebagai respons, sekelompok negara termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman telah menyatakan kesiapan untuk “melakukan bagian mereka” guna memastikan keamanan jalur pelayaran. Namun, belum jelas apakah komitmen ini akan cukup untuk memenuhi tenggat waktu yang diminta Trump atau memuaskan tuntutannya .
“Baca Juga : BPOM Pastikan Stok Obat Aman 6 Bulan, Soroti Dampak Global“




Leave a Reply