gadsdenriverfest -PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Subholding Gas Pertamina, menerapkan ekonomi sirkular di wilayah kerja perusahaan. Program utamanya adalah pengelolaan sampah plastik di lingkungan perusahaan. Sampah yang tadinya tak berguna diubah menjadi produk yang bernilai.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menjelaskan filosofi di balik program ini. Kegiatan tersebut bukan sekadar pengelolaan lingkungan biasa. Program ini juga bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan. Pelaksanaannya melibatkan seluruh elemen perusahaan.
“Program ini dihadirkan guna mendorong kemandirian pengelolaan sampah di lokasi perusahaan. Sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus menciptara nilai tambah bagi masyarakat,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dalam penerapannya, PGN menyiapkan sistem pengelolaan yang terintegrasi. Proses dimulai dari pemilahan sampah oleh seluruh karyawan. Selanjutnya, sampah dikumpulkan dan dikelola bersama Kertabumi Recycling Centre. Tahap akhir adalah pengolahan bekerja sama dengan Bank Sampah Al-Bustaniyah.
Limbah plastik yang sudah diolah dapat menjadi berbagai produk. Seperti ecobrick, paving block, hingga kerajinan tangan. Program ini sejalan dengan target PGN mencapai Net Zero Emission. Selain itu, PGN juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Ke depan, PGN berencana memperluas program ke wilayah operasional lain di seluruh Indonesia. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak masyarakat.
Baca juga:IHSG Anjlok 2,86 Persen, Sektor Tambang Jadi Penekan Utama
Kolaborasi Lintas Fungsi Ubah Limbah Jadi Sumber Daya, Tingkatkan Kesadaran ESG
Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, PGN ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab. Perusahaan juga meningkatkan awareness Environmental, Social and Governance (ESG) di internal perusahaan. Target akhirnya adalah menciptakan nilai tambah. Limbah yang tadinya mengganggu berubah menjadi sumber daya bermanfaat.
“Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat. Sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik,” ujar Fajriyah Usman.
Program ini tidak berhenti di gerbang kantor PGN. Karyawan didorong menjadi agen perubahan di rumah masing-masing. Bank Sampah Al-Bustaniyah sebagai mitra juga memberi pendampingan pada warga sekitar. PGN percaya bahwa keberlanjutan adalah tanggung jawab kolektif.
Langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk mengurangi sampah plastik 30 persen pada 2029 . Indonesia menghasilkan 7,2 juta ton sampah plastik per tahun, dan hanya 10 persen yang didaur ulang hingga 2025 . Inisiatif seperti yang dilakukan PGN diharapkan menjadi contoh bagi BUMN lain.
Botol Plastik Dihargai Rp400, PGN-Bajaj Gas Hadirkan Diskon BBG untuk Nasabah Rajin Pilah Sampah
Saat ini, PGN juga menjalankan inisiatif bagi komunitas bernama Bajaj Gas. Dalam program ini, botol plastik dihargai senilai Rp400 per botol. Peserta dapat menukarkan hingga 61 botol plastik. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan kupon diskon pengisian bahan bakar gas (BBG). Program ini mengubah sampah menjadi nilai ekonomi nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre, selaku pendamping program, menilai pendekatan yang dilakukan PGN sangat positif. Mulai dari edukasi, pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna. Upaya tersebut, lanjutnya, tidak hanya berdampak bagi lingkungan perusahaan. Lebih dari itu, program ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup, Ikbal membeberkan fakta memprihatinkan. Timbunan sampah yang tidak terkelola mencapai 109 ton per hari. Angka itu setara dengan sekitar 75 persen dari total timbulan sampah. Kondisi ini memicu berbagai permasalahan lingkungan. Mulai dari pencemaran tanah dan air, peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga risiko kerusakan ekosistem akibat penumpukan sampah plastik.
Kondisi tersebut mendorong perlunya kolaborasi dan langkah nyata. Sangat dibutuhkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna,” katanya. PGN berkomitmen memperluas program Bajaj Gas ke lebih banyak wilayah. Dengan insentif diskon BBG, diharapkan partisipasi masyarakat semakin tinggi.
Baca juga:Produk Makanan Indonesia Miliki Potensi Transaksi Rp346 Miliar di Kanada




Leave a Reply