Ekspor PKE Dorong Hilirisasi Sawit Tanpa Investasi Besar
PKE Jadi Bukti Optimalisasi Produk Turunan Sawit
Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai ekspor palm kernel expeller (PKE) atau bungkil inti sawit membuktikan bahwa hilirisasi industri sawit tidak selalu membutuhkan investasi besar.
Menurut Eliza, pengembangan nilai tambah sawit dapat dilakukan dengan mengoptimalkan produk turunan yang sudah tersedia dari proses pengolahan kelapa sawit. Salah satunya melalui pemanfaatan PKE yang selama ini menjadi produk samping dari pengolahan inti sawit.
Ia menjelaskan, PKE memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan jika bagian tersebut hanya dijual dengan harga rendah. Pemanfaatan produk samping ini juga tidak memerlukan pembangunan industri hilir berskala besar seperti pabrik oleokimia.
“Ekspor PKE ini menunjukkan kemampuan kita menangkap nilai tambah dari bagian pohon sawit yang sebelumnya kurang dimanfaatkan atau dijual dengan harga sangat murah,” kata Eliza di Jakarta, Senin.
Ekspor PKE Buka Peluang Pasar Produk Turunan Sawit
Eliza mengatakan peningkatan nilai ekonomi dari penjualan PKE dapat memberikan manfaat tambahan bagi industri kelapa sawit. Pendapatan tersebut berpotensi meningkatkan margin pabrik kelapa sawit (PKS).
Selain itu, peningkatan efisiensi dan pendapatan industri sawit juga dapat berdampak secara tidak langsung terhadap harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.
Menurut dia, strategi hilirisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan industri besar, tetapi juga dapat dilakukan melalui optimalisasi kapasitas pengolahan yang sudah berjalan.
Ekspor PKE Indonesia ke Selandia Baru menjadi salah satu contoh bahwa produk turunan sawit memiliki peluang pasar global. Negara tersebut menggunakan PKE sebagai bahan tambahan pakan ternak, terutama untuk industri peternakan sapi.
“Selandia Baru bukan pasar utama sawit Indonesia, tetapi negara tersebut memiliki industri susu yang membutuhkan PKE dalam jumlah besar sebagai bahan baku suplemen pakan ternak,” ujar Eliza.
baca juga: Dunia Hadapi Super El Nino, Harga Beras hingga Kopi Bisa Melonjak 100%
Ia menilai keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan bahwa produk samping sawit Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar negara maju dengan standar ketat, termasuk dalam aspek biosecurity.
Lampung Catat Peningkatan Ekspor PKE ke Pasar Global
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Karantina Lampung sebelumnya melepas ekspor sebanyak 14 ribu ton PKE atau bungkil sawit ke Selandia Baru. Pengiriman tersebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp20 miliar.
Kepala Balai Karantina Lampung Donni Muksydayan mengatakan Selandia Baru menjadi salah satu pasar potensial bagi PKE karena produk tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.
Menurut Donni, kebutuhan industri peternakan di Selandia Baru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor produk turunan sawit.
Data Balai Karantina Lampung menunjukkan kinerja ekspor PKE dari wilayah tersebut terus meningkat. Sepanjang 2025, Lampung mencatat 184 kali ekspor PKE dengan volume sekitar 1,34 juta ton.
Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar Rp3,12 triliun, meningkat dibandingkan 2024 yang mencatat 172 kali pengiriman dengan volume sekitar 569 ribu ton dan nilai Rp2,58 triliun.
Hilirisasi Sawit Dapat Diperluas Melalui Produk Bernilai Tambah
Peningkatan ekspor PKE menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia memiliki peluang besar dalam mengembangkan produk turunan bernilai tambah. Pendekatan ini dapat menjadi alternatif hilirisasi yang lebih efisien tanpa harus selalu bergantung pada investasi industri skala besar.
Optimalisasi produk samping sawit juga dapat memperkuat daya saing industri nasional di pasar internasional. Dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia, Indonesia dapat menciptakan nilai ekonomi baru sekaligus memperluas pasar ekspor.
Ke depan, pengembangan produk turunan seperti PKE berpotensi menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi sawit yang berkelanjutan. Industri dapat meningkatkan pemanfaatan seluruh bagian kelapa sawit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan pelaku usaha hingga petani.
baca juga: CORE: CPO dan turunannya masih jadi andalan ekspor perkebunan RI




Leave a Reply