gadsdenriverfest.com – Ekonomi lesu namun perilaku konsumen Indonesia menunjukkan tren menarik, berdasarkan laporan Indonesia Economic Outlook (IEO) Q3-2025 dari LPEM FEB UI, masyarakat mengalami fenomena lipstick effect—yakni kecenderungan membeli barang-barang kecil untuk memperoleh kepuasan instan, meskipun kondisi ekonomi sedang tidak stabil.
“Baca juga : Pemerintah Atur Cara Hitung Tarif Royalti Musik di Kafe”
Barang-barang yang dibeli umumnya bersifat non-esensial namun menyenangkan, seperti kosmetik, layanan perawatan pribadi, atau aksesori. Laporan menunjukkan bahwa meski pengeluaran untuk barang besar seperti elektronik dan pakaian menurun, belanja kosmetik justru meningkat
Dalam lima tahun terakhir, pengeluaran untuk elektronik turun dari 2,89% (2019) ke 1,95% (2024), dan pakaian dari 2,84% ke 2,25%. Sebaliknya, pengeluaran untuk kosmetik naik dari 1,14% menjadi 1,27%, dengan inflasi jasa perawatan pribadi melonjak dari 3,56% di awal 2024 menjadi 8,71% pada awal 2025.
Fenomena Lipstick Effect: Saat Ekonomi Lesu, Belanja Kecil Jadi Pelarian
Fenomena ini bukan hal baru. Istilah lipstick effect pertama kali dicetuskan oleh ekonom Juliet Schor dalam bukunya The Overspent American (1998). Penelitian tahun 2012 menyebut bahwa secara psikologis, perempuan terdorong mempercantik diri saat krisis sebagai bentuk pencarian stabilitas sosial, terutama pasangan mapan.
Sedangkan studi tahun 2020 menyebut keinginan memanjakan diri secara hemat juga menjadi pemicunya. Colleen Kirk, pakar perilaku konsumen dari Institut Teknologi New York, menjelaskan bahwa membeli barang kecil bisa menciptakan rasa kendali.
“Ketika hidup terasa tidak pasti, belanja jadi aktivitas yang bisa diprediksi,” ujarnya. Terapis keuangan Lindsay Bryan-Podvin juga menambahkan bahwa berbelanja kecil-kecilan memberi efek menenangkan saat kecemasan finansial meningkat.
Untuk menyikapi lipstick effect secara sehat, para ahli menyarankan agar masyarakat tidak terjebak pada pola konsumsi emosional. Beberapa tips yang disarankan antara lain:
- Buat anggaran belanja kecil sejak awal untuk menghindari pengeluaran impulsif.
- Tanyakan alasan membeli: Apakah karena kebutuhan atau sekadar pelampiasan kecemasan?
- Latih kesadaran finansial: Kenali kondisi ekonomi pribadi dan batasi konsumsi emosional dengan refleksi jangka panjang.
Tren ini memperlihatkan bahwa dalam kondisi ekonomi sulit, masyarakat tetap mencari celah untuk merasakan kebahagiaan—meski hanya lewat pembelian sederhana.
“Baca juga : Olahraga Padel Makin Diminati, Gaya Hidup atau Tren Sesaat?”
Namun, penting untuk menyeimbangkannya dengan kesadaran dan perencanaan agar tidak terjebak dalam pola konsumsi yang justru memperburuk kondisi keuangan pribadi.




Leave a Reply